Selasa, 07 November 2017

Ketika Mayat Meminta Tolong Kepada Seluruh Orang Yang Dikenalnya

*Ketika Mayat Meminta Tolong Kepada Seluruh Orang Yang Dikenalnya*

Konon orang yang mati awalnya tidak menyadari bahwa dirinya mati. Dia merasa dirinya sedang bermimpi mati. Dia melihat dirinya ditangisi, dimandikan, dikafani, dishalati hingga diturunkan ke dalam kubur. Dia merasa dirinya sedang bermimpi saat dirinya ditimbun tanah. Dia berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar teriakannya.

Beberapa waktu kemudian, saat semua sudah pulang meninggalkannya sendirian di bawah tanah, Allah kembalikan ruhnya. Dia membuka mata, dan terbangun dari _“mimpi”_ buruknya.

Dia senang dan bersyukur, bahwa ternyata apa yang dia alami hanyalah sebuah mimpi buruk, dan kini dia sudah bangun dari tidurnya. Kemudian dia meraba badannya yang hanya diselimuti kain sambil bertanya kaget:

_“Dimana bajuku? Kemana celanaku?”_ Lalu dia meraba sekelilingnya yang berupa tanah _“Dimanakah aku? Tempat apa ini? Kenapa bau tanah dan lumpur?”_ Kemudian dia mulai menyadari bahwa dia ada di bawah tanah, dan sebenarnya apa yang dialaminya bukanlah mimpi! Ya, dia sadar bahwa dirinya benar-benar telah mati.

Berteriaklah dia sekeras-kerasnya, memanggil orang-orang terdekatnya yang dianggap bisa menyelamatkannya:

_“Ibuuuuu….!!!!”_
_“Ayaaaaaah…!!!!”_
_“Kakeeeeek!!!”_
_“Neneeeek!!”_
_“Kakaaaaak!!!”_
_“Sahabaaaaat!!!”_

Tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Dia yang selama ini lupa pada Allah pun ingat bahwa ALLAH adalah satu-satunya harapan.

Menangis lah dia sambil meminta ampun,
_“Ya, Allaaaaaaah…. Ya Allaaaaaaah…. Ampuni aku ya Allaaaaaaah….!!!”_

Dia berteriak dalam ketakutan yang luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya sepanjang hidupnya.

Jika dia orang baik, akan muncullah dua malaikat dengan wajah tersenyum dan akan mendudukkannya dan menenangkannya, menghiburnya dan melayaninya dengan pelayanan yang terbaik.

Jika dia orang buruk, akan datang dua malaikat dengan wajah bengis yang akan menambah ketakutannya dan akan menyiksanya sesuai keburukannya.

_Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur_

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
_“Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.”_
(Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aalli Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang – orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang – orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: _“Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam surga.”_

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, _“Aku adalah Al Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”_

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

_Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa ibu bapak kami, keluarga kami, saudara kami dan seluruh kaum muslimin, Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Aamiin._

Sobat sekarang kita memiliki dua pilihan,

1. Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
2. Membagikan pengetahuan ini kesemua teman facebook / WA kita insyaa Allah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagi kits. Aamiin! {Fxz}

Silakan diSHARE sebanyak mungkin!

Tim Acara Islam itu Indah Kunjungi Kota Padang Panjang

Pendidikan Islami di Kota Padang Panjang

Dalam Bingkai  “ Islam Itu Indah ”

Padang Panjang, Kominfo, suhefriandi.blog.id- Kota Padang Panjang hadirkan tim “Islam Itu Indah”, dengan dipandu oleh Kartika Ramlan (Tika), dan menghadirkan Ustad Riza Muhammad, Ustad Syamsudinnur dan Ustadzah Lulung. Melalui Program Islam Itu Indah, Trans TV tertarik untuk mengeksplor pendidikan Islam di sejumlah pesantren di Kota yang berjuluk Serambi Mekah ini, Sabtu (4/11).

Dimulai dari kunjungan para Tim ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Minangkabau (PDIKM) yang disambut langsung oleh Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis, BSBA Ketua DPRD Novi Hendri, unsur Forkopimda, kepala OPD dan sejumlah kelompok majelis taklim serta Pemimpin Pondok Pesantren se-Kota Padang Panjang.

Setelah melakukan ramah tamah dan saling berjabat tangan dengan Wali Kota Padang Panjang, rombongan Tim Islam Itu Indah, disambut dengan Makan Bajamba yang dilanjutkan dengan melakukan Diaolog Interaktif serta Tausiah di Auditorium Minang Fantasi dan Water Park Padang Panjang bersama dengan para santri dari Pondok Pesantren Thawalib Putra, Diniyah Puteri, Thawalib Putri, Kauman Muhammadiyah dan Pesantren Terpadu  Serambi Mekah serta Ibu-ibu Majlis Taklim Kota Padang Panjang.

Dengan mengusung tema “Pendidikan Islami di Bumi Serambi Mekkah”, ustadzah Lulung tampil sebagai penceramah pertama, menyampaikan materi Makna dan Hakikat Ilmu dalam pandangan Islam yang membuat ratusan para peserta yang hadir bersemangat mengikuti kegiatan yang diselingi canda dan gurauan tersebut.

Setelah Ustadzah Lulung tampil, selanjutnya ustad Syamsudinnur memberikan Tausiahnya sembari melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdunya dan dilanjutkan dengan Tausiah ustad Riza Muhammad tentang pentingnya menuntut ilmu agama.

Setelah para Ustad dan Ustadzah tampil, Tika yang memandu acara tersebut memberikan kesempatan kepada para Santri dan Ibu Majlis Taklim untuk bertanya, dan nanti pertanyaan tersebut akan langsung dijawab oleh Ustad dan Ustadzahnya.

Acarapun dilanjutkan dengan membawa para santri saling sambung menyambung ayat yang diiringi oleh Ustad Syam, santri tersebut berasal dari Pondok Pesantren Terpadu Serambi Mekkah Ananda Khalilul Rahman, yang juga sudah hafal 15 Juzz serta santri dari Muhammadiyah, mereka Bertiga melantunkan Ayat suci yang di bacakan, diawali  oleh ust. Syam, Selanjut nya sambung menyambung bacaan..  “Subhannallah” sontak keluar sebuah kata yang penuh makna dari ustad Syam, karena mendengar lancarnya para santri untuk menyambung ayat-ayat yang dibacakannya. Terlebih lagi para santri ada yang melakukan Tausiah Penutup acara, Santri yang berasal dari Pondok Pesantren Terpadu Serambi Mekkah Mampu memukau semua yang hadir saat itu, dan di lakukan dengan baik , Bahkan Produser acara pun Mengacung Jempolnya.. “ “Masya Allah” ini sudah bisa Go Internasional juga seperti saya,” kata Ustad Syam sembari tersenyum dan merangkul santri tersebut, santri Tersebut bernama M. Asril.. saat ini baru duduk di bangku kelas X Madrasah Aliyah Serambi Mekkah...

Alhamdulilah Do'a Penutup Acara Islam Itu indah road to Padang Panjang, di sampaikan oleh Wakil Ketua MUI kota padang Panjang yang juga Da'i Kondang di Kota berjuluk Kota Serambi Mekkah ini, beliau adalah Ust. Ade Sehabudin, SH,MM.Pd ( Guru Tetap di Pesantren Terpadu Serambi Mekkah )

Hari Kedua dari Kegiatan Syuting Acara " Islam Itu Indah di Padang Panjang, Kembali Seluruh Kru Lengkap Trans TV dengan, Ust. Reza Muhammad, Ust. Syam, Ustadzah Lulung, kembali Mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Sholat Dzuhur berjamaah di Mesjid Bahrul Ulum, Berjamaah bersama seluruh Penghuni Pondok Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Selesai sholat Dzuhur berjamaah.. Alhamdulillah Masing Masing Da'ai Islam itu Indah berkesempatan Tausyiah secara bergantian di hadapan Ratusan Para santri/wati Pondok Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Durasi masing masing kurangblebih 15 menitan per Da'i.. Alhamdulillah... " Masyaallah Ini Pesantren yang besar di kota yang berjuluk Kita Serambi Mekkah ini " Ujar ust. Reza Muhammad...

“Bahagia sekali kami berada di Padang Panjang ini, dengan melihat semangat para santri-santrinya untuk menyebarluaskan agama Islam dan mampu memberikan tausiah kepada para umat yang ada dimana pun dan kapan pun, Masya Allah sungguh besar keagunganMu Tuhan,” kata Ustad Riza sembari merintih dengan haru.

Sementra itu, Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis pada kesempatan itu, menyampaikan, program pendidikan Islam yang dilaksanakan di Kota Padangpanjang telah berlangsung lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal itu, ditandai dengan berdirinya perguruan Diniyah Puteri, perguruan Thawalib dan Kauman Muhammadiyah yang telah melahirkan tokoh-tokoh Nasional dan berperan dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Siapa yang tidak kenal Rahmah El Yunisiah, Sutan Syahrir, Buya Hamka dan banyak lagi tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar terhadap bangsa ini. Saya juga berharap kepada generasi muda untuk giat menuntut ilmu dan menggapai cita-citanya,” ajak Hendri Arnis.

Kepada Kru Islam Itu Indah, Hendri Arnis juga mengucapkan terima kasih atas kedatangannya ke Kota Padangpanjang. Apalagi, dengan tingginya kesibukannya, menyempatkan diri untuk mampir ke kota kecil berhawa sejuk tersebut.

“Saya juga berharap, ini bukan kunjungan yang pertama dan yang terakhir kesini, cukup banyak lagi sisi sisi pendidikan Islam yang ada di Padangpanjang, yang bisa diangkat ketingkat nasional. Sehingga, citra Padang panjang sebagai kota pendidikan Islam semakin bergema ke tingkat Nasional,” sebut Walikota muda Padang Panjang.

Usai Ustad Riza berikan sebuah tambahan Tausiahnya, acarapun ditutup dengan foto bersama dengan para santri dan para ibu-ibu Majlis Taklim. (Release Kominfo/cg & Suhefriandi/Pesantren Terpadu Serambi Mekkah ).

KH. Tengku Zulkarnain ( Wasekjed MUI Pusat ) di Kota Padang Panjang

Alhamdulillah, dengan Izin Allah Ta"alla KH. Tengku Zulkarnain ( Wasekjed MUI Pusat ) Mengunjungi Pesantren Terpadu Serambi Mekkah Kota Padang Panjang, Selasa, 7 November 2018, Disela sela agenda Beliau KH. Tengku Zulkarnain ( Wasekjed MUI Pusat ) Mengunjungi Sumatera Barat Memenuhi undangan Masyarakat Sumatera Berat di sela sela padat nya agenda 7 hari beliau di Bumi Minang beliau menyempatkan untuk bertemu dengan Para santri Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, sehari sebelum kedatangan beliau, melalui EO di kota serambi Mekkah yang di wakili untuk mengkomunikasikan kunjungan beliau ini, beliau akan bertemu dengan Para para penerus ulama yang saat ini sedang mondok di Pesantren Terpadu Serambi Mekkah, Alhamdulillah.. Ratusan Santri/wati, Para Asssatidz dan Ummahad, karyawan Pesantren  sangat senang sekali mendengar kabar akan kedatangan beliau ke Pesantren... Segala persiapan di siapkan secepat mungkin.. Alhamdulillah...

     Beliau KH. Tengku Zulkarnain ( Wasekjed MUI Pusat ), memberikan ilmu dan Motivasi yang sangat penting buat generasi generasi ulama masa depan yang berada di pondok pesantren, Bahkan Tausyiah beliau di beri judul.. " Santri Pewaris Ulama "... Alhamdulillah.. Sungguh pertemuan yang sangat memiliki arti yang besar bagi kami... Beliau berpesan.. Rajin rajinlah belajar, Jangan bermalas malasan, di tangan kalian lah nantinya Perjuangan menegakan Keadilan ini di lanjutkan.." Terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah berandil besar terlaksana nya acara ini.. Alhamdulillah...

Selasa, 24 Oktober 2017

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

By. : Suhefriand


       Manusia di dalam kehidupan sehari harinya harus berkomunikasi, artinya setiap manusia  memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat.

      Di dalam kelompok ataupun organisasi selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk Menjalankan kelompok Organisasi yang terdiri dari atasan dan bawahannya. Oleh karena itu komunikasi dianggap sebagai elemen penting untuk keberhasilan suatu organisasi. Bagaimana mungkin orang lain bisa menangkap ide kita kalau kita tidak dapat mengungkapkannya kepada orang lain dengan baik.

      Komunikasi dalam organisasi menjadi hal sangat penting, seperti halnya aliran darah bagi suatu organisasi, dan miskomunikasi memberi kontribusi yang dapat disamakan dengan rusaknya sistem peredaran darah dalam lebih dari satu organisasi. Komunikasi menjadi faktor terpenting bagi organisasi dalam mendapatkan informasi. Kemudian dengan komunikasi yang baik maka suatu organisasi akan dapat berjalan lancar dan begitu juga sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan.

       Tanpa komunikasi di antara berbagai pihak, pola hubungan yang kita sebut organisasi tidak akan melayani kebutuhan seseorang dengan baik. Kegagalan dalam organisasi banyak yang disebabkan oleh kurang tertatanya komunikasi yang dilakukan para pelaku di organisasi tersebut. Ditambah lagi dengan perbedaan budaya masing-masing sehingga menghambat dalam proses komunikasi dan menimbulkan efek kurang baik yaitu tidak adanya kerjasama sesama pengurus. Seperti yang dikatakan Luthans bahwa komunikasi yang tidak efektif adalah akar utama permasalahan dalam organisasi.

       Komunikasi  antara pimpinan dan anggota menjadi faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. Pemimpin organisasi sebagai leader memiliki peran penting dalam berkomunikasi dengan anggota.

Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai komunikasi dalam organisasi.
( Pesantren Terpadu Serambi Mekkah Kota Padang Panjang )

           A. Proses Komunikasi Dalam Organisasi.

       Dalam kehidupan sehari-hari kita menerima banyak pesan / informasi dari berbagai sumber, dari teman, orang tua, rekan kerja, iklan dan berita di media massa dan sebagainya baik disadari maupun tidak. Dari sekian banyak pesan-pesan tersebut, hanya sebagian kecil saja yang menarik perhatian kita dan kita perbincangkan. Beberapa pesan bahkan memberikan efek atau dampak baik positif maupun negatif pada kita.
Ternyata dalam organisasi semua kegiatan organisasi diawali dengan lalu lintas komunikasi. Proses penetapan tujuan, pemberian tugas sampai pelaporan dilakukan melalui komunikasi. Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan maupun pendapat dari setiap anggota organisasi guna mencapai kesamaan makna.
Komunikasi bertindak dan berfungsi mengendalikan perilaku anggota organisasi dalam berbagai cara.

       Dalam hal ini, komunikasi melaksanakan empat fungsi utama dalam organisasi, yaitu :
1. fungsi informasi,
2. fungsi kendali,
3. fungsi motivasi dan
4. fungsi penyampaian perasaan emosional.
       Fungsi internal komunikasi ini akan berunjung pada diri anggota organisasi itu sendiri berupa munculnya :
-  kesadaran diri yang tinggi terhadap organisasi,
-  pemahaman terhadap kinerja organisasi,
-  struktur organisasi dan reputasi organisasi.

       Proses komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam beragam konteks, salah satunya dalam lingkup organisasi. Organisasi memiliki suatu jenjang jabatan dan kedudukan yang memungkinkan semua anggota organisasi tersebut memiliki perbedaan posisi dan tanggung jawab pada bidang pekerjaan masing-masing. Dalam konteks organisasi, pemahaman mengenai peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi didalamnya seperti:
- Apakah instruksi pimpinan sudah dilaksanakan dengan benar oleh bawahan? atau bagaimana bawahan mencoba menyampaikan keluhan kepada atasan? Hal-hal seperti ini memungkinkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.

       Namun yang menjadi persoalan, sering kali ditemukan banyak masalah dalam proses komunikasi dalam organisasi. Persoalan pokok sebenarnya terletak pada “perbedaan tentang pesan” yang diterima. Pesan yang dimaksudkan oleh pengirim sering kali salah dipahami atau bukan seperti yang diinginkan oleh penerima. Penerima pesan tidak membalas makna pesan sebagaimana yang diinginkan oleh pengirim pesan. Pesan itu sendiri juga bisa menjadi masalah manakala simbol-simbol yang dipilih oleh pengirim pesan tidak tepat dan waktu pengiriman pesan yang salah. Ditambah lagi, adanya perbedaan latar belakang para pelaku komunikasi yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam mempersepsi pesan yang diterima karena adanya kepentingan. Adanya konflik antar pribadi / kelompok juga turut mempengaruhi kinerja organisasi.

       Disisi lain, masih banyak yang beranggapan bahwa komunikasi itu mudah karena setiap saat kita melakukannya. Bahkan dalam organisasi pun, komunikasi sering dianggap tidak penting. Keadaan menjadi berubah ketika kemudian munculnya konflik dalam proses kerja, terjadi hambatan, penyimpangan, kegagalan, ketegangan, perbedaan pendapat dan sebagainya. Barulah komunikasi dipandang sebagai hal penting, hal yang pelik, perlu cara-cara atau teknik yang pas dalam menjembatani perbedaan-perbedaan yang ada guna mendatangkan keberhasilan dalam organisasi.

        Komunikasi itu sendiri mencakup pentransferan dan pemahaman makna. Suatu gagasan yang dimiliki seseorang, sebagus apa pun itu, tidak ada gunanya jika tidak disampaikan kepada orang lain dan dipahami. Proses penyampaian informasi dalam kegiatan penyelesaian tugas dalam diskusi dan rapat-rapat tentang perubahan yang akan dilakukan di dalam organisasi, merupakan kebijakan interaksi terbuka yang akan membangun hubungan sangat positif guna kelangsungan pengembangan organisasi ke depan.

        Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi, efektivitas komunikasi akan sangat menentukan kesuksesan organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kemampuan individu untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan baik, menjadi pendengar yang baik, menggunakan berbagai media audio-visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif dalam suatu organisasi. Komunikasi merupakan keterampilan yang paling penting dalam kehidupan setiap manusia dan organisasi.
Steven Covey mengibaratkan komunikasi adalah napas kehidupan makhluk. Ia menitik beratkan pada konsep saling ketergantungan untuk menjelaskan hubungan antarmanusia. Faktor penting dalam komunikasi tidak sekadar pada apa yang ditulis atau dikatakan seseorang, tetapi lebih pada karakter seseorang dan bagaimana sesorang dapat menyampaikan pesan kepada penerima pesan.

        Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa syarat utama komunikasi yang efektif adalah karakter dan integritas pribadi yang menyampai kan pesan tersebut. Menurut Covey, untuk membangun komunikasi diperlukan lima dasar penting yaitu:

1. Usaha untuk benar-benar mengerti orang lain,

2. Kemampuan untuk memenuhi komitmen,

3. Kemampuan untuk menjelaskan harapan,

4. Kemampuan untuk meminta maaf secara tulus jika melakukan kesalahan,

5. Kemampuan memperlihatkan integritas.

       Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik yang memiliki makna melakukan komunikasi untuk mengerti dan memahami karakter dan maksud dan peran orang lain yang menerima pesan. Dalam hal ini, kebaikan dan sopan santun seperti halnya kemampuan dan kemauan untuk memenuhi komitmen yang disampaikan, dan menjelaskan harapan yang diharapkan dalam suatu hubungan komunikasi sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya harapan yang bertentangan atau berbeda dengan peran dan tujuan komunikasi.

Selain itu, integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran juga diperlukan dalam membangun hubungan komukasi yang efektif dan sehat. Kejujuran menekankan pada kemauan untuk mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas menyesuaikan realitas dengan kata-kata setiap individu yang menyampaikan pesan.

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, seorang komunikator harus mampu mengidentifikasi sasaran yang menjadi penerima pesan, menentukan tujuan komunikasi, merancang pesan, memilih media, memilih sumber pesan, dan mengumpulkan umpan balik.
Disamping itu, komunikator harus bisa memutuskan isi pesan, format pesan dan struktur pesan sehingga pesan yang disampaikan memiliki daya tarik maksimal, baik daya tarik rasional, emosional dan moral. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memilih media, media komunikasi yang bisa digunakan yaitu telepon, surat, internet atau media massa seperti papan reklame, poster, media on line. Kemudian suasana lingkungan organisasi yang dirancang sedemikian rupa baik sebagai daya tarik, dan melaksanakan kegiatan untuk meningkatkan “eksistensi” dan image positif organisasi.

Selain itu, Komunikasi yang efektif juga dianjurkan oleh ajaran agama Islam agar terjadinya hubungan baik sesame manusia dan nilai-nilai yang baik tentunya harus dimiliki oleh seorang individu, kelompok atau organisasi. Dalam Islam dikenal dengan Qaulan Ma’rufa yaitu baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ucapan yang baik adalah ucapan yang diterima sebagai sesuatu yang baik dalam pandangan masyarakat. Dengan kata lain bahwa Qaulan Ma’rufa mengandung arti perkataan yang sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, dan menyenangkan, serta sesuai dengan kaidah dan hukum dan logika.

          Kemudian Qaulan Baligha diartikan sebagai pembicaraan yang fasih atau tepat, jelas maknanya, terang, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya atau juga dapat diartikan sebagai ucapan yang benar dari segi kata. Dan apabila dilihat dari segi sasaran atau ranah yang disentuhnya dapat diartikan sebagai ucapan yang efektif.

B. Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi
Organisasi, baik yang berorientasi pada keuntungan (profit) maupun nirbala (non profit) memiliki empat fungsi, yaitu :

1. Fungsi Informasi

      Informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam organisasi. Mereka yang berada pada level manajemen membutuhkan informasi untuk membuat kebijakan organisasi atau mengatasi konflik yang terjadi dalam organisasi. Sedangkan para karyawan membutuhkan organisasi untuk melaksanakan pekerjaan, mendapat jaminan sosial, jaminan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.

Pemimpin pada level manapun, harus memiliki kemampuan dan ketrampilan memberikan informasi yang jujur, terbuka apa adanya sesuai fakta dan yang mampu menjaring umpan balik. Hal ini sangat berkaitan dengan kemampuan dan ketrampilan mendengarkan, terutama mendengarkan saran, keluhan dan kritik dari bawah dan pihak lain. Umpan balik merupakan salah satu tolak ukur untuk melihat apakah proses komunikasi dalam organisasi sudah berjalan efektif atau tidak.

Disisi lain, mendengarkan, memperhati kan dan menyimak informasi dari bawah akan mendatangkan rasa nyaman bagi bawahan secara emosional. Mereka merasa dihargai dan diperhatikan oleh atasannya. Penghargaan tersebut merupakan faktor penting untuk membangun dan meningkatkan motivasi bawahan dalam bekerja dan menjadi modal penting dalam mencapai kesuksesan sebagai seorang pimpinan.

2. Fungsi Persuasi.

       Perkembangan zaman menunjukan, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai yang diharapkan. Mempersuasi orang lain lebih membuka peluang besar untuk bekerja sama mencapai hasil karena menghasilkan tingkat partisipasi dan kepedulian yang tinggi dibandingkan dengan pemberian tugas dengan perintah yang memperlihatkan kekuasaan dan kewenangan. Efek positif persuasi adalah adanya kesadaran dan kerelaan penerima pesan untuk mengikuti dan melakukan dengan penuh tanggung jawan pesan yang diterimanya tanpa merasa dipaksa kan.

Kemampuan persuasi adalah kemampuan untuk mempengaruhi yang menjadi inti kepemimpinan. Proses komunikasi persuasi dalam organisasi diperlukan dalam rangka menjadikan jajaran dan publik sadar dan mau memberikan perhatian, persetujuan dan dukungannya kepada organisasi.

3. Fungsi Regulatif.

        Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam organisasi. Fungsi ini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu Pertama, mereka yang berada pada level manajemen memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang didapat dan disampaikan dan juga kewenangan untuk memberi instruksi. Sehingga dalam struktur organisasi, mereka ditempatkan pada lapis atas supaya perintah-perintahnya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun demikian, sikap bawahan dalam menjalankan perintah banyak bergantung pada: kekuatan pimpinan dalam memberikan sanksi ketika terjadi pelanggaran, keabsahan pimpinan dalam menyampaikan perintah, kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin dan sebagai pribadi, serta tingkat kredibilitas pesan yang diterima oleh bawahan. Kedua, berkaitan dengan pesan itu sendiri. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan selalu membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

4.  Fungsi Integratif.

         Setiap organisasi selalu berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Dalam hal ini terdapat dua saluran komunikasi dalam organisasi. Pertama, saluran komunikasi formal, seperti laporan-laporan kemajuan organisasi dan penerbitan khusus dalam organisasi (buletin, newsletter, website, dll). Kedua, saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi / kelompok, pertandingan olahraga, darma wisata dan sebagainya. Hal-hal seperti ini akan membangkitkan keinginan yang kuat untuk berpatisipasi yang tinggi dalam diri bawahan terhadap organisasi.

C. Komunikasi Antar Budaya dalam Organisasi

        Dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak lepas dari komunikasi dan lingkungannya. Kepribadian seseorang akan dibentuk pula oleh lingkungannya dan agar kepribadian tersebut mengarah kepada sikap dan perilaku yang positif tentunya harus didukung oleh suatu norma yang diakui tentang kebenarannya dan dipatuhi sebagai pedoman dalam bertindak. Pada dasarnya manusia atau seseorang yang berada dalam kehidupan organisasi berusaha untuk dapat menentukan dan membentuk sesuatu yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak, agar dalam menjalankan aktivitas nya tidak berbenturan dengan berbagai sikap dan perilaku dari masing-masing individu. Sesuatu yang dimaksud tidak lain adalah budaya dimana individu berada, seperti nilai, keyakinan, anggapan, harapan dan sebagainya.

Komunikasi yang baik sangat diharapkan bagi kayawan, apalagi berbeda budaya agar tidak terjadi miskomunikasi dan penghambat untuk mencapai tujuan dari organisasi. Sehingga diperlukan terjadinya proses komunikasi efektif dalam sebuah organisasi. Disamping itu, didalam organisasi terdapat budaya yang dapat diartikan sebagai alat perekat sosial yang membantu untuk mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan. Budaya juga berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan. Sebagai sistem sosial budaya, organisasi mengembangkan seperangkat inti pengandaian, pemahaman, dan aturan implisit yang mengatur perilaku sehari-hari dalam tempat kerja.

Oleh karena itu, budaya organisasi adalah suatu nilai yang menjadi pegangan bagi karyawan yang terlibat di dalam organisasi mereka, yang dapat dijadikan sebagai faktor pembeda terhadap organisasi lain, menjadi acuan untuk mengendalikan perilaku organisasi dan perilaku karyawan dalam berinteraksi antar karyawan, dan berinteraksi dengan organisasi lainnya.

Budaya organisasi harus mampu diartikan oleh seluruh karyawannya sebagai sistem nilai-nilai, keyakinan, dan kebiasaan bersama dalam organisasi yang berinteraksi dengan struktur formal untuk menghasilkan norma perilaku yang memberi arti bagi karyawan suatu organisasi, serta aturan-aturan bagi anggota untuk berperilaku di organisasi. Budaya organisasi dibentuk oleh sesuatu yang terlibat dengan organisasi serta dalam perjalanan terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tetap mengacu pada tercapainya tujuan organisasi.
Sementara itu lingkungan kerja yang kondusif dalam suatu sistem nilai, norma, dan peraturan yang mendukung merupakan faktor penting untuk meningkatkan semangat dan kinerja serta motivasi kerja karyawan demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Melihat dari efek yang ditimbulkan oleh budaya organisasi yang ada di dalam suatu perusahaan atau organisasi, maka hakikatnya budaya organisasi yang sudah baik patut tetap terus dijaga, dipelihara serta terus menerus ditingkatkan.

D. Hambatan-hambatan Komunikasi dalam Organisasi

        Secara umum dapat diklasifikasikan tentang hambatan-hambatan dalam berkomunikasi pada sebuah organisasi, yang mengakibatkan terjadinya miskomunikasi dan menghambat terjalinnya kerjasama serta tujuan dari organisasi tersebut tidak tercapai. Adapaun hambatan-hambatannya sebagai berikut;

1. Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.

2. Hambatan dalam penyandian/simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.

3.  Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.

4. Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima

5. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima/ mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.

6. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretative, Hambatan tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.

7. Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan (cacat tubuh misalnya orang yang tuna wicara), gangguan alat komunikasi dan sebagainya.

8. Hambatan Semantik, Faktor pemahaman bahasa dan penggunaan istilah tertentu. Kata-kata yang  dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya : adanya perbedaan bahasa (bahasa daerah, nasional, maupun internasional).

9.  Hambatan Psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan, sehingga menimbulkan emosi diatas pemikiran-pemikiran dari sipengirim maupun si penerima pesan yang hendak disampaikan.

10. Hambatan Manusiawi terjadi karena adanya faktor; emosi dan prasangka pribadi, persepsi,kecakapan atau ketidak
cakapan, kemampuan atau ketidak mampuan alat-alat pancaindera seseorang.

Wass
Semoga Bermanfaat.


Kamis, 13 Juli 2017

Kisah Urwah Bin Zubair

Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang shalih.

Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.

Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

Di dekat rukun Yamani, duduknya empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan meraka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mush’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi Abdul Malik bin Marwan.

Pembiacaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Saudaranya, Mus’ab menyusulnya: “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.”

Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunah Nabi-Nya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-cita dahulu.

Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah mengauasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair? Mari kita ikuti kisahnya dari awal…

Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khilafah al-Faruq Radhiyallahu ‘Anhu. Dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya.

Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “al-Hawari” (pembela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Sedangkan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar ash-Shidiq yang dijuluki dzatun nithaqain [pemilik dua ikat pinggang].

Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar ash-Shidiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menemani beliau di sebuah goa.

Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bibinya adalah Ummul Mukminin, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah ummul Mukminin.

Maka siapa lagi kiranya yang lebih unggul nasabnya dari beliau? Adakah kemuliaan di atasnya selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?

Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para shahabat Rasulullah yang masih hidup.

Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriyawatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya, Aisyah Ummjul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara fuqaha sab’ah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.

Para pemimpin yang shalih banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat sebagai gubernur di Madinah pada masa al-Walid bin Abdul Malik, orang-orang pun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau.

Usai shalat zuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh ulama tersebut telah berada di sisinya, maka beliau melapangkan majlis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata, “Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran, saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezhaliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemudian Urwah mendoakan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Beliau mengkhatamkan seperempat Alquran setiap siang dengan membuka mushhaf, lalu shalat malam membaca ayat-ayat Alquran dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yakni ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi akan kami beritakan kepada Anda.

Dengan menunaikan shalat, Urwah memperolah ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan surga di dunia. Beliau tunaikan sebagus mungkin, beliau tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan beliau panjangkan shalatnya sedapat mungkin.

Telah diriwayatkan bahwa beliau pernah melihat seseorang menunaikan shalat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rabb-mu Yang Maha Suci? Demi Allah, aku memohon kepada Rabb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.”

Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya itu adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.

Begitulah, orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap memasuki kebun, beliau mengulang-ulang firman Allah:

ÙˆَÙ„َÙˆْÙ„َا Ø¥ِذْ دَØ®َÙ„ْتَ جَÙ†َّتَÙƒَ Ù‚ُÙ„ْتَ Ù…َا Ø´َاء اللَّÙ‡ُ Ù„َا Ù‚ُÙˆَّØ©َ Ø¥ِÙ„َّا بِاللَّÙ‡ِ

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaa allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi: 39)

Suatu masa di zaman khilafah al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorang pun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh dengan keyakinan.

Tatkala amirul mukminin mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.

Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.

Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan putranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya.

Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan mereka untuk mengobati Urwah dengan cara apapun.

Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah: “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan). Tabib berkata, “Kalau begitu kami akan membius Anda!” Beliau menjawab, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”

Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar,” sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghentikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk beberapa lama dant terhenti membaca ayat-ayat Alquran di hari itu. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.”

Kemudian dibacanya syair Ma’an bin Aus:

    Tak pernah kuingin tanganku menyentuh yang meragukan

    Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan

    Telinga dan pandangan mataku pun demikian

    Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran

    Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan

    Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku.

Kejadian tersebut membuat Amirul Mukminin, al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan putranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.

Bersamaan dengan itu, di rumah khalifah datang satu rombongan Bani Abbas yang salah seorang di antaranya buta matanya. Kemudian al-Walid menanyakan sebab musabab kebutaannya. Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, dulu tidak ada seorang pun di kalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak dibanding saya. Saya tinggal bersama keluarga di suatu lembah di tengah kaum saya. Mendadak muncullah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya. Yang tersisa bagi saya hanyalah seekor onta yang lari dari saya. Maka saya taruh bayi yang saya bawa di atas tanah lalu saya kejar onta tadi. Belum seberapa juh, saya mendengar jerit tangis bayi itu. Saya menoleh dan ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala, dia telah memangsanya. Saya kembali, tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena bayi itu sudah habis dilalapnya. Lalu serigala tersebut lari dengan kencangnya. Akhirnya saya kembali mengejar onta liar tadi sampai dapat. Tapi begitu saya mendakat dia menyepak dengan keras hingga hancur wajah saya dan buta kedua mata saya. Demikianlah, saya dapati diri saya kehilangan semua harta dan keluarga dalam sehari semalam saja dan hidup tanpa memiliki penglihatan.

Kemudian al-Walid berkata kepada pengawalnya, “Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah, lalu mintalah agar dia mengisahkan nasibnya agar beliau tahu bahwa ternyata masih ada orang yang ditimpa musibah lebih berat darinya.”

Tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih darinya.”

Demi melihat kedatangan dan keadaan imam dan gurunya, maka penduduk Madinah segera datang berbondong-bondong ke rumahnya untuk menghibur.

Yang paling baik di antara ungkapan teman-teman Urwah adalah dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah: “Bergembiralah wahai Abu Abdillah, sebagian dari tubuhmu dan putramu telah mendahuluimu ke surga. Insya Allah yang lain akan segera menyusul kemudian. Karena rahmat-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala meninggalkan engkau untuk kami, sebab kami ini fakir dan memerlukan ilmu fiqih dan pengetahuanmu. Semoga Allah memberikan manfaat bagimu dan juga kami. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wali bagi pahala untukmu dan Dia pula yang menjadim kebagusan hisab untukmu.”

Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi penunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’i selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.

Tak bosan-bosannya beliau memberikan motivasi kepada para putranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berakata, “Wahai putra-putriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum.” Lalu beliau melanjutkan: “Sungguh menyedihkan, adakah di dunia ini yang lebih buruk daripada seorang tua yang bodoh?”

Beliau anjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan.”

Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakikatnya. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun dalam pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang dia adalah orang yang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesinambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan menyebabkan timbulnya kejahatan berikutnya.”

Beliau juga mewasiatkan agar berlemah lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. Beliau berkata, “Wahai putra-putriku, tertulis di dalam hikmah, “Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang daripada suatu pemberian.”

Jika beliau melihat seseorang condong pada kemewahan dan mengutamakan kenikmatan, diingatkannya betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membiasakan diri untuk hidup sederhana.

Sebagai contoh adalah kisah yang diceritakan oleh Muhammad bin al-Munkadir, “Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku sambil berkata, “Wahai Abu Abdillah.” Aku jawab, “Labbaik.”

Urwah berkata, “Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah, lalu beliau berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, ada kalanya selama 40 hari tak ada api menyala di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk lampu ataupun memasak.” Maka aku bertanya, “Bagaimana Anda berdua hidup pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Dengan korma dan air.”

Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian, dan diliputi ketaqwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan berpuasa, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beliau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan minuman dari telaga al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh para bidadari cantik di surga.

Minggu, 04 Juni 2017

Membangun Sense Of Belonging

Sense of belonging atau rasa memiliki yang dimaksud bersifat aktif. Diwujudkan dalam bentuk inisiatif, keberanian mengambil tanggung jawab dan risiko, serta keinginan berbagi. Sense of belonging juga mengubah bentuk keterikatan orang dengan organisasi, dari sekadar yang bernuansa bisnis dan transaksional menjadi semacam keterikatan batin. Dengan sense of belonging inilah, kata Budi Antono, Corporate Organization Development Manager, pada talkshow di Suara Surabaya (07/02), seseorang akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk organisasi atau perusahaannya.

Karena berbicara sense, hubungan eratnya dengan batin. Mungkin organisasi atau perusahaan secara fisik dianggap tak bernyawa, tapi sebenarnya di dalamnya ada nyawanya, ada pimpinan, visi-misi, manajer, dan karyawan. Tantangannya, bagaimana membuat mereka feel at home, dalam pengertian bukan nyaman dan santai di rumah. Bukankah kini banyak keluarga modern tidak ada pembantu, sehingga penghuni rumah harus bersih-bersih rumah hingga ngosek wc sendiri. Inilah yang harus disadari perusahaan; harus memancing dan memicu sense ini. Layaknya sebuah rumah tangga, tidak bisa hanya sebagian yang punya sense of belonging, tapi harus mutual atau saling memiliki.

Siapa yang paling berada di garis depan untuk hal ini? Tentu para pimpinannya yang harus memulai. Owner, direktur, para manajer harus berusaha menumbuhkan sense of belonging dengan jalan mempertajam visi-misi dan nilai-nilai di perusahaan tersebut. Yang demikian itu kemudian harus terkomunikasikan hingga menyentuh semua level di organisasi atau perusahaan. Secara absolut, bila ingin profesional, semua elemen dalam organisasi/perusahaan itu harus memiliki sense of belonging. Bila semua lapisan sudah tercipta rasa memiliki yang sama, tugas para manajer pun akan menjadi lebih ringan sekaligus strategis.

Ada perusahaan yang juga menerapkan management of conflict demi untuk menghindari comfort zone atau zona nyaman. Tapi hendaknya berhati-hati, manajemen konflik bisa menjadi api dalam sekam. Kalau tidak terkontrol, bukan persaingan sehat yang didapat, bahkan ‘rumah’ pun akan ikut ludes. Kebanyakan yang terjadi, perusahaan yang menerapkan manajemen konflik tidak tahu bagaimana mengontrol dan menyetop. Bisa ngegas, tapi tidak bisa mengerem. Akhirnya terjadi crash.

Hal penting yang harus dipahami oleh para pengusaha kalau menerapkan manajemen konflik, syaratnya sistem yang dipunyai harus implemented. Sistem ini berfungsi sebagai rem. Manajemen konflik dipakai biasanya untuk segera mendapatkan hasil. Hampir sama dengan orang pergi ke gym, ingin membentuk badannya dalam waktu sebulan, latihannya seminggu sekali, dalam tiga jam ngobrolnya dua jam, akhirnya dia memakai doping. Memang ada hasilnya. Tapi begitu stop dopingnya, akan kembali jelek. Dan tidak ada program long term.

Cara menggerakkan bisnis dengan pendekatan kekeluargaan juga mungkin bisa digunakan. Tapi seiring berkembangnya usaha, harus diciptakan sistem yang bisa membawa kapal bisnis terkelola dalam jangka panjang ke depan. Bukankah semua usaha dimulai dari kecil terlebih dahulu?

Semua perusahaan harus berevolusi apa yang kurang dalam perjalanan. Perusahaan harus investing on people. Karena, yang menjalankan semuanya adalah orang. Tubuh orang dikendalikan oleh otak. Tapi otak dikendalikan oleh hati. Badannya segar otaknya cemerlang tapi di kantor ada konflik sehingga hatinya merasa tidak nyaman, tidak akan bisa maksimal. Bahkan mau berangkat ke kantor saja sudah malas. Sebenarnya yang membuat malas ke kantor bukan otaknya, tapi lebih karena olahrasa hatinya yang tidak nyaman.

Tidak bisa dibayangkan bila karyawan sudah tidak lagi memiliki sense of belonging, perusahaan akan disorganize, morat-marit, chaos, dan ujung-ujungnya akan bangkrut. Mungkin benar karyawan tetap melakukan pekerjaannya, tanggung jawab job disnya, tapi tidak disertai keterlibatan rasa dan hati yang nyaman. Hasil pekerjaannya akan artifisial. Bukan karena si karyawan sengaja untuk tidak maksimal, tapi karena faktor hatinya yang tidak terbangun sense of belongingnya. Dan itu berarti kegagalan sang bos, yang tidak mampu membangun rasa memiliki si anak buah, sekaligus kegagalan sang bos dalam memahami dan melaksanakan visi-misi perusahaan.

Sabtu, 06 Mei 2017

Nama nama anak laki laki muslim awalan H

Haazim    :    Teliti
Habib    :    Kekasih
Habibi    :    Kekasihku; kesayanganku
Hadaya    :    Pemberian : Hadiah
Haddad    :    Pendai besi ; Kuat kemauan
Hadhir    :    Yang hadir ; Ada
Hadi    :    Penunjuk jalan
Hadid    :    Besi
Hadziq    :    Pandai ; Cerdik
Hafidz    :    Yang diserahi memelihara sesuatu; Salah satu asma Allah
Hafizh    :    Penghafal ; Penjaga
Hafizh    :    Penjaga; Pemelihara; Orang yang dipercaya; Orang yang terjaga; Salah satu asma Allah
Haidar    :    Harimau ; Pemberani
Ha’il    :    Disegani ; Ditakuti
Haitsam    :    Burung elang
Haj    :    Orang yang berhaji ke Baitullah; Orang yang menuju
Hajid    :    Yang shalat tahajud
Hajiduzzaman    :    Orang yang paling suka tahajud di zaman ini
Hajjaj    :    Yang mempunyai hujjah yang kuat; Banyak melaksanakan haji
Hakam    :    Adil ; Bijaksana
Hakim    :    Hakim ; Bijaksana
Hakim    :    Yang pandai dan memiliki pendapat yang kuat; Salah satu asma Allah
Halim    :    Lembut dan sabar; Salah satu asma Allah
Hamad    :    Pujian; Syukur; yang dipuji
Hamam    :    Burung merpati
Hambali    :    Imam Hambali
Hamdan    :    Pujian ; Nama kabilah zaman dahulu
Hamdan    :    Penetap di suatu tempat
Hamdan    :    Yang banyak pujian
Hamdi    :    Pujianku
Hamdun    :    Pujian
Hamid    :    Terpuji
Hamid    :    Yang bersyukur
Hamid    :    Orang terkenal dan pandai yang akhlaknya baik
Hamim    :    Teman karib
Hamin    :    Penjaga
Hammad    :    Yang banyak bersyukur
Hammadi    :    Pemuji
Hammam    :    Yang mempunyai kemauan keras
Hamud    :    Banyak memuji
Hamzah    :    Singa ; Nama paman Nabi Muhammad S.A.W
Hanafi    :    Pengikut imam Abu Hanafiah
Hanan    :    Lemah lembut ; Penuh kasih sayang
Hanbali    :    Pengikut imam Ahmad Hanbali
Hani    :    Yang mengucapkan selamat
Hanif    :    Tulus ; Rela
Hanif    :    Yang berpegang teguh pada Islam; Orang yang berada pada agama Ibrahim; Yang lurus
Harits    :    Penjaga ; Pemelihara
Hasan    :    Yang baik bentuk badan dan ahklaknya; Nama anak Ali bin Abi Thalib
Hasanain    :    Dua kebaikan; Nama yang sering dipakai di Mesir
Hasib    :    Orang yang menghitung; Pemberi; Bangsawan; Orang yang membuat perhitungan
Hassan    :    Bagus
Hassan    :    Yang membuat sesuatu menjadi baik dan indah; Nama penyair Rasulullah (Hassan bin Tsabit Al-Anshary)
Hassun    :    Kebaikan ; Jenis burung yang merdu kicaunya
Hasyid    :    Yang memadukan satu masalah; Orang yang selalu siap; Orang yang tidak berlebih-lebihan memerah susu unta; Nama kabilah di Yaman
Hasyim    :    Pemurah; Pemecah sesuatu
Hatim    :    Murni ; Ikhlas
Hatim    :    Murni
Hauzan    :    Mahluk manusia
Hawari    :    Pengikut setia ; Pengikut setia Nabi Isa A.S.
Hayyan    :    Hidup; Membuat sesuatu menjadi hidup; Nama seorang sejarawan Andalus (Ibnu Hayyan)
Hazim    :    Orang yang teliti
Hazim    :    Yang berkemauan keras
Hazza’    :    Harimau ; Pemberani
Helmi    :    Sabar dan berakal
Hibatullah    :    Anugrah Allah
Hibatullah    :    Anugerah Alloh
Hibban    :    Yang dikasihi; Nama ahli hadist terkenal (Ibnu Hibban).
Hidayat    :    Petunjuk
Hikam    :    Hikmah yang banyak
Hilal    :    Bulan sabit
Hilmi    :    Sabar dan berakal; Pemurah
Hishon    :    Kuda jantan ; Pemberani
Hisyam    :    Baik hati lagi dermawan; kemurahan
Hubab    :    Cinta kasih yang terbatas
Huda    :    Petunjuk
Humaidi    :    Terpuji (tasghir)
Humam    :    Maharaja; Singa
Husain    :    Kebaikan (tasghir)
Husain    :    (Diminutif dari Hasan) Sangat baik; Nama anak Ali bin Abi Thalib
Husam    :    Pedang yang tajam
Husni    :    Kebagusanku ; Kebaikanku; Indah
Huwaidi    :    Kembali kepada yang haq